Tahun 2013, saya tetap bekerja sebagai head of digital di sebuah agensi tempat periklanan bernama MEC Indonesia yang merupakan anggota berasal dari grup agensi periklanan WPP.

Di th. tersebut, WPP mengadakan sebuah acara bergengsi bernama STREAM bersama dengan rancangan unconference – sebuah konferensi industri periklanan bersama dengan rancangan unik yang melewatkan para peserta terundang untuk membuat agenda berdiri sendiri bersama dengan topik yang sanggup menarik perhatian peserta lain.

Di acara STREAM Indonesia 2013 tersebut, saya dan atasan saya Ajay Gupte melempar sebuah topik diskusi bersama dengan judul Digital Specialist Killed Digital.

Pada periode tersebut, perusahaan iklan jakarta belum sebesar dan se-powerful seperti saat ini. Kontribusi periklanan digital di Indonesia saat itu tetap sekitar 5 – 7 prosen berasal dari keseluruhan membeli media, jika dibandingkan bersama dengan th. 2022 yang sudah meraih 29 prosen (data E-Marketer).

Maka, sanggup dikatakan bahwa di th. 2013 industri periklanan digital di Indonesia tetap seperti bayi yang tengah belajar berjalan.

Namun bersama dengan impuls dan tekanan market negara lain yang sudah lebih maju, sang bayi seperti dipaksa berlari untuk mengejar ketertinggalan, agar para profesional periklanan digital saat itu (termasuk saya) pakai segala cara untuk menegaskan para pengiklan untuk mencoba dan mengalihkan budget iklan mereka ke tempat digital yang dipasarkan sebagai tempat masa depan.

Semangat menggebu-gebu para profesional periklanan digital pada periode berikut mendorong sebuah narasi bahwa tempat digital lebih baik ketimbang tempat tradisional seperti TV, radio, print dan OOH (Out Of Home) karena iklan yang tampil di tempat digital sanggup terukur bersama dengan lebih presisi dan real time.

Gelisah bersama dengan cara-cara menjajakan iklan digital Narasi berikut tentunya tidak salah karena faktanya sebenarnya demikian.

Namun saya dan Ajay jadi ada yang salah bersama dengan cara-cara menjajakan tempat dan iklan digital secara “arogan” seperti itu.

Jika kita menyaksikan peristiwa pertumbuhan tempat dan periklanan, tidak ada tempat baru yang benar-benar membunuh media-media sebelumnya, pun faktanya di th. 2013 tersebut, di negara-negara yang sudah lebih maju industri periklanan digitalnya, TV tetap mendominasi, iklan cetak tetap banyak digunakan, radio dan OOH tempat malah semakin kreatif dan interaktif.

Kegelisahan berikut yang membuat saya dan Ajay melempar topik Digital Specialist Killed Digital di ajang STREAM 2013, karena kita percaya jika para specialis periklanan digital menjajakan produknya bersama dengan cara seperti itu maka industri periklanan digital tengah menggali kuburnya sendiri.

Kami termasuk percaya bahwa setiap platfom tempat mempunyai nilai unik sendiri-sendiri dan harusnya para profesional periklanan digital mengupayakan sekuat tenaga untuk melacak cara agar beragam platform tempat sanggup terintegrasi untuk memberikan pengaruh yang lebih vital bagi bisnis para pengiklan.

Sejak saat itu, kita berdua selalu vokal menyuarakan integrasi multi-platform tempat lebih-lebih nama jabatan saya saat itu diubah berasal dari head of digital yang terkesan eksklusif menjadi head of strategy & innovations demi mengkampanyekan apa yang kita percayai.

Fast forward ke tanggal 4 Mei 2022, di dalam perjalanan pulang setelah mudik Lebaran, saya dikirim sebuah tautan artikel oleh kolega saya Arja Sadjiarto, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Petra, Surabaya.

Artikel berikut bersumber berasal dari Harvard Business Review bersama dengan judul Why Marketers Are Returning To Traditional Advertising, terbitan 29 April 2022.

Isi berasal dari artikel berikut menghidupkan ulang passion saya bersama dengan Ajay Gupte di dalam upaya mendorong integrasi platform periklanan tanpa “merendahkan” media-media tradisional yang sering dianggap out dated.

Data-data yang diutarakan di dalam artikel berikut jadi perlihatkan hipotesis-hipotesis yang kita percayai sejak dulu.

Di bawah ini lebih dari satu data dan informasi yang menurut saya penting dicermati oleh para professional periklanan:

 

1. Belanja iklan tempat tradisional diprediksi akan mengalami peningkatan.

Data berasal dari The CMO Survei edisi ke-28 mencatat penurunan membeli iklan di tempat tradisional secara rata-rata setiap tahunnya turun 1,4 prosen antara th. 2012 hingga 2022, saat keseluruhan membeli marketing global naik sebesar 7,8 prosen di periode yang sama.

Meski demikianlah data terakhir menunjukan pergeseran di mana para marketer menyaksikan kenaikan membeli iklan di tempat tradisional sebesar 1,4 prosen di Agustus 2021 dan 2,9 prosen di Februari 2022.

Pergeseran positif ini didorong oleh perusahaan-perusahaan berbasis B2C (business-to-consumer) layanan sebesar 10,2 persen, disusul oleh B2C produk sebesar 4,9 prosen dan yang lebih mengejutkan perusahaan-perusahaan yang meraih pendapatan 100 prosen berasal dari transaksi online memprediksi menaikan membeli iklan tempat tradisional sebesar 11,7 prosen di dalam 12 bulan ke depan.

 

2. Pengguna internet sudah muak bersama dengan iklan digital yang bertubi-tubi.

Seiring meningkatnya saat pemanfaatan internet, otomatis para penjelajah online ini akan semakin banyak terpapar iklan digital.

Di sisi lain, utilisasi teknologi periklanan programmatik oleh para pengiklan yang meningkat pesat bersama dengan segala kompleksitasnya menuntut pemilik tempat digital untuk konsisten meningkatkan kuantitas inventori iklan per halaman untuk menjaga pertumbuhan bisnis. Bisa dibayangkan berapa ribu iklan yang memapar pengguna internet setiap harinya.

Hal itu pula yang membuat frustasi para pengguna internet sekaligus membangun asosiasi negatif pada merek atau produk di dalam iklan digital konvensional seperti banner atau iklan di dalam video.

Survei berasal dari Hubspot menemukan bahwa 57 prosen partisipan tidak menyukai iklan yang nampak sebelum saat konten video di awali (pre-roll) dan 43 prosen berasal dari mereka sama sekali tidak akan menyaksikan iklan tersebut.

Sementara itu sebuah laporan berasal dari MarketingSherpa menjelaskan bahwa setengah berasal dari costumer yang disurvei sering atau selalu melihat iklan televisi dan membaca iklan cetak berasal dari perusahaan/brand yang mereka sukai.

 

3. Iklan di tempat tradisional paling dipercaya oleh konsumen.

Survei MarketingSherpa yang sama menjelaskan bahwa costumer paling memercayai iklan cetak (82 persen), disusul oleh iklan televisi (80 persen) dan radio (71 persen).

Data berikut sanggup menjadi indikator kuat untuk para pengiklan bahwa untuk membangun kredibilitas dan kepercayaan sebuah brand, tempat tradisional tetap memegang guna penting.

 

4. Cookie-less internet membuat perubahan mindset para pemasang iklan.

Dengan menghilangnya cookie tracker berasal dari browser internet akibat gencarnya kampanye pertolongan data khusus secara global, maka kemampuan teknologi periklanan digital untuk melakukan precision targeting dan personalized experience akan mengalami penurunan tajam.

Kondisi berikut akan mengembalikan metode penargetan iklan bersama dengan pendekatan segmentasi di mana cara berikut sudah dilaksanakan oleh tempat tradisional sepanjang puluhan tahun.

Hal ini pula yang selanjutnya membuat para marketer ulang melirik tempat tradisional tentunya bersama dengan pendekatan-pendekatan baru.

The CMO Survey menunjukan 19,8 prosen berasal dari marketer global akan meningkatkan membeli iklan tempat tradisional sebagai respons berasal dari pergantian baru ini.

 

5. Ekstensi aset digital media-media tradisional sanggup berdampak besar jika dieksploitasi bersama dengan baik.

Kita semua memahami betul bahwa transformasi digital bagi dunia bisnis tidak sanggup dihindari.

Perusahaan-perusahaan tempat tradisional pun di dalam satu dekade terakhir ini nampak menyongsong bersama dengan tangan terbuka.

Pengembangan aset-aset digital berasal dari tempat tradisional sudah menjadi kewajiban industri baik sebagai perpanjangan distribusi tempat inti seperti kanal Youtube, account tempat sosial dan e mail marketing maupun pengembangan tempat digital yang lebih native dirancang cocok habitat digital konsumennya yang lahir berasal dari tempat cetak harian .

Usaha-usaha integrasi aset-aset digital berasal dari tempat berbasis tradisional ini sudah sering dilaksanakan baik oleh pemasang iklan, pemilik tempat maupun agensi periklanan.

Namun pengaruh keseluruhan bisnis berikut tetap sukar diukur bersama dengan baik akibat belum tersedianya proses pengukuran multi-platform yang terintegrasi.

Perlu bisnis sungguh-sungguh para pemangku kepentingan industri periklanan untuk mendorong terciptanya pengukuran terintegrasi multi-platform yang standar dan dianggap semua pihak demi kemajuan dan pertumbuhan bersama.

Teknologi bukan solusi absolut Dari poin-poin di atas kita sanggup menyaksikan bahwa pemanfaatan teknologi bukan solusi absolut berasal dari permasalahan dan tantangan di dalam industri periklanan.

Penggunaan teknologi yang terlalu berlebih lebih-lebih sanggup menjadi bumerang yang berdampak tidak baik bagi merek dan bagi industri itu sendiri.

Teknologi periklanan harusnya diposisikan sebagai alat bukan tujuan utama, karena kala kita menyerahkan semua operasional aktivitas periklanan pada teknologi saja maka iklan-iklan berikut menjadi “dingin” karena performa iklan hanya dicermati berasal dari angka-angka statistik engagement semata.

Iklan-iklan digital retargeting dan hyper-targeting yang dioperasikan teknologi menurut sebuah survei berasal dari Science Direct lebih-lebih sanggup mengakibatkan respons reaktansi atau penolakan terutama kala costumer tidak familiar bersama dengan merek di dalam iklan tersebut.

Saya sendiri sebagai profesional di dalam bidang pemasaran dan periklanan selalu mengingatkan diri sendiri bahwa pada hakikatnya, beriklan adalah usaha-usaha sebuah merek untuk berkomunikasi melalui pesan-pesan persuasif bersama dengan manusia.

Manusia itu sendiri adalah mahluk bersama dengan indera kompleks yang sepenuhnya tersambung bersama dengan anggota otak yang mengontrol emosi atau rasa agar pesan-pesan di dalam sebuah iklan harusnya sanggup membuat perasaan-perasaan positif untuk menciptakan permohonan audience berinteraksi lebih di dalam dan pada akhirnya pakai produk yang diiklankan.

Manusia termasuk bukan mahluk linear yang hanya hidup di dalam dunia digital dan lepas berasal dari lingkungan fisik sekitar. Indera-indera kita termasuk dirancang untuk merespons sensasi-sensasi fisik yang membentuk sebuah pengalaman utuh yang tersimpan bersama dengan baik di dalam memori.

Jika saya minta Anda untuk mengingat iklan apa saja yang Anda menyaksikan hari ini di internet, saya percaya sedikit sekali yang akan diingat, lebih-lebih kemungkinan besar Anda tidak akan ingat pesan apa yang ada di iklan-iklan tersebut.

Tapi jika saya bertanya iklan apa saja yang Anda paling suka, maka saya percaya Anda akan menjelaskan lebih dari satu iklan yang menurut Anda lucu, menyentuh atau keren!