Pendekatan Pengembangan Masyarakat

Pendekatan Pengembangan Masyarakat

Perbandingan antara dua kutub ekstrim menjadi situasi yang berlawanan melalui penggunaan kriteria tertentu, kenyataan di satu kutub berlawanan dengan kutub lainnya, dimensi yang dapat memberikan kekuatan satu kutub justru menjadi kelemahan di kutub lainnya.

 

1. Peningkatan versus transformasi

Meski sama-sama membutuhkan perubahan melalui proses community development, namun perbedaan antara kedua kutub pendekatan tersebut, yaitu antara pendekatan perbaikan dan pendekatan transformasi, terletak pada sikap mereka terhadap eksistensi dan struktur sosial yang ada.

Pendekatan perbaikan didasarkan pada perubahan, tetapi tetap didasarkan pada struktur sosial yang ada. Sedangkan dengan pendekatan transformasi perubahan tersebut benar-benar terjadi pada tataran struktur masyarakat melalui perubahan struktural.

Dengan pendekatan improvement ini, perubahan yang diharapkan bukanlah perubahan struktural, melainkan perubahan metode dan sistem produksi yang didasarkan pada inovasi ide-ide baru.

Dalam pendekatan transformasi, perubahan struktural dapat dilihat baik sebagai tujuan maupun sebagai cara untuk mencapai tujuan tersebut, sebagai perubahan yang terjadi dalam proses pembangunan masyarakat; tujuan utamanya adalah perubahan struktural. Karena kondisi kehidupan yang lebih baik kemudian dapat dikembangkan melalui struktur sosial yang baru.

 

2. Proses versus hasil material

Pengembangan masyarakat yang lebih menekankan pada proses lebih banyak menggunakan pola hubungan horizontal, baik secara internal antar kelompok maupun antar anggota masyarakat itu sendiri, maupun dalam hubungan antara anggota masyarakat dengan pihak eksternal dengan agen-agen reformasi yang memimpin lembaga-lembaga eksternal tersebut. Hal ini dikarenakan masyarakat berusaha melakukan proses pengambilan keputusan di semua lapisan masyarakat. Pembangunan gereja adalah proses menuju keadaan di mana anggota masyarakat menjadi lebih kompeten dan peka untuk menanggapi masalah dalam komunitas itu sendiri dan pertanyaan yang terkait dengan hubungan dengan komunitas makro. Prosesnya bertahap dan kumulatif, yang kemudian menunjukkan persaingan dan kepekaan yang lebih tinggi, yang terwujud dalam peningkatan inisiatif, kreativitas, dan partisipasi.

Di sisi lain, perkembangan masyarakat yang mengutamakan hasil material dinilai lebih menjanjikan perubahan konkrit yang cepat. Dengan perubahan ini, orang dapat mengejar ketinggalan lebih cepat. Bagi masyarakat dengan kondisi sosial yang sangat rentan, pendekatan ini dianggap dapat memberikan penyelesaian masalah yang lebih cepat tanpa menunggu masalah menjadi lebih parah. Dalam masyarakat seperti ini, pendekatan proses umumnya dianggap terlalu rumit, memakan waktu lama dan tidak mencapainya secara langsung. Karena dalam hal ini diterima bahwa perubahan sikap dan motivasi dapat berlangsung dengan sendirinya dengan menyesuaikan diri dengan perubahan fisik dan materi yang terjadi.

 

3. Swadaya versus teknokratis

Pendekatan pengembangan masyarakat yang mengutamakan sumber daya, potensi, dan kekuatan internal disebut dengan pendekatan swadaya. Pendekatan ini didasarkan pada prinsip demokrasi dan prinsip penentuan nasib sendiri. Prinsip yang digunakan adalah perkembangan humanistik yang mengakui keberadaan manusia sebagai makhluk yang aktif dan kreatif. Asumsi yang mendasarinya adalah bahwa masyarakat sendiri dapat memainkan peran yang sangat penting dan mengontrol proses pembangunan. Karena pada dasarnya setiap masyarakat memiliki kemampuan dan potensi untuk mengembangkan dirinya.

Dengan mengikuti pendekatan ini, diharapkan masyarakat itu sendiri:
1. Tentukan apa kebutuhannya.
2. Tentukan apa yang perlu Anda lakukan untuk mencapai ini.
3. Ikuti langkah-langkah yang telah Anda putuskan.

Berbeda dengan pendekatan swadaya, pendekatan teknokratis lebih didasarkan pada asumsi bahwa masyarakat di negara berkembang, khususnya masyarakat pedesaan, hanya dapat melakukan perubahan dan perombakan sebagai tindakan, intervensi eksternal, berupa pengenalan dan bahkan perombakan. penerapan teknologi produksi modern.

Intervensi eksternal dapat berupa perumusan program bahkan pengelolaan selama pelaksanaan dengan berbagai perangkat dan lembaga pendukung serta petugas pelaksana. Pendekatan teknokratis dan pendampingan teknis menjadi keunggulan, terutama terkait dengan percepatan proses catch-up, terutama dari sisi ekonomi dan peningkatan produktivitas. Oleh karena itu tidak dapat dipungkiri bahwa prosesnya umumnya top-down, dengan paket program yang dirancang dan kemudian dilaksanakan, lengkap dengan pelaksanaan pemerintah dan petunjuk teknis.

 

4. Keseragaman versus variasi lokal

Uniformity, suatu pendekatan yang lebih menitikberatkan pada keseragaman. Biasanya memanifestasikan dirinya dalam bentuk program pengembangan masyarakat yang dirancang di tingkat pusat dan kemudian diterapkan di semua tingkat komunitas kota yang ada, tanpa memperhitungkan perbedaan karakteristik masing-masing kota, atau sering disebut pendekatan cetak biru top-down. . Alasan pendekatan ini umumnya adalah masalah efisiensi, kontrol implementasi yang mudah, keamanan program saat perencanaan di tingkat nasional dan integrasi nasional.

Namun, kelemahan dari pendekatan ini adalah bahwa pembangunan berbasis terpusat dan konsisten, membuat program sulit untuk mengatasi masalah dan kebutuhan nyata yang benar-benar dirasakan atau kurang ambisius oleh masyarakat setempat.

Di sisi lain, pendekatan yang menekankan pada perbedaan lokal mengakui bahwa program pembangunan tidak dapat dilaksanakan secara konsisten, justru karena setiap masyarakat memiliki kondisi dan permasalahan yang berbeda. Jika dilaksanakan dengan pola yang konsisten, terdapat kesenjangan antara program pembangunan dengan masalah dan kebutuhan nyata masyarakat. Oleh karena itu, pendekatan yang dipilih harus lebih menitikberatkan pada nilai prakarsa dan perbedaan lokal, dalam arti bahwa orientasi pembangunan harus didasarkan pada aspirasi masyarakat yang menyimpang dari kondisi, masalah dan kebutuhan yang mungkin berbeda dari masyarakat ke lingkungan, yaitu perbedaan variasi lingkungan alam. dan lingkungan sosial.

Sumber Rangkuman Terlengkap : https://www.sarjanaekonomi.co.id/