Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral merekomendasikan badan bisnis untuk membeli solar kepada PT Pertamina (Persero) dengan pertimbangkan ketersediaan pasokan di dalam negeri.

Pelaksana Tugas Dirjen Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto menyatakan terkecuali Pertamina berlebihan pasokan solar, badan bisnis bisa lakukan penjualan secara business to business (b to b)dengan Pertamina.

Menurutnya, selama ini pasokan solar Pertamina type cetane number 48 flow meter supaya badan bisnis lain bisa manfaatkan pasokan di dalam negeri.

“Kalau jual, yang jenisnya sama. Kalau beda, tidak bisa lah. Selama Pertamina punya, ya membeli dari Pertamina, lebih bagus begitu,” katanya

Pihaknya menyeleksi pertolongan izin impor solar industri dengan ketersediaan di dalam negeri. Adapun badan bisnis yang lakukan impor untuk solar dengan cetane number 51 dimungkinkan untuk diberikan izin, mengingat Pertamina terhitung kekurangan pasokan.

Dia memberi tambahan selama kesepakatan (b to b) terselenggara, maka transaksi bisa diimplementasikan. “Yang teken rekomendasi kan saya.

Sebelum saya teken, saya suruh negosiasi pernah dengan Pertamina selama barangnya ada,” katanya. Terpisah, Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengamini langkah pemerintah untuk merekomendasikan badan bisnis menyerap solar dari Pertamina. Hal tersebut dinilai sebagai langkah menghemat cadangan devisa.

Adapun obyek penjualan BBM segmen industri Pertamina ditargetkan mencapai 23,12 juta kiloliter (KL) dengan realisasi penjualan sebesar 9,35 juta KL per Mei 2019. Dari sisi obyek kinerja sektor hilir, Pertamina th. lalu meraup pendapat senilai US$39,97 miliar, meningkat dari pendapatan sektor hilir 2017 senilai US$33,5 miliar.