Video kekerasan pengasuh pada anak, marak beredar di tempat sosial. Dalam tayangan nampak seorang pengasuh anak atau babysitter berbuat kasar kepada anak asuhannya, yang belum pintar berjalan.

Masyarakat dunia maya bereaksi marah. Kemarahan khususnya dilayangkan kepada pengasuh.

Pada selagi bersamaan, nampak rasa pilu karena kita melihat bagaimana si anak dikasari pengasuhnya. Bahkan di Facebook saja, video itu udah diberi label peringatan sebagai konten yang dapat memicu syok, tersinggung, dan kecewa. Video ini dirilis oleh ibu korban.

Psikolog anak dan keluarga Vera Itabiliana dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia memaklumi emosi ibu korban, agar “tega” mengedarkan video kekerasan yang menampilkan anaknya sebagai korban.

“Tentu bersama target memberi tambahan peringatan bagi ibu-ibu lain,” papar Vera.

“Ini wake-up call agar para ibu berhati-hati meninggalkan anak dalam pengasuhan siapa pun, tidak hanya babysitter bali,” lanjutnya.

Banyak orang tua yang tetap lengah, berasumsi pihak yang dititipi anak dapat senantiasa berfaedah sempurna. Menjamin anak-anak beres segala-galanya sekaligus aman.

Sejatinya, pengasuh hanya kepanjangan tangan ibu. Saat ibu tidak ada di rumah atau kudu mengerjakan perihal lain agar tidak dapat mengasuh anak.

“Jadi, pusat kendali senantiasa berada di tangan ibu. Ketika ibu ada dan available, sebaiknya anak segera diasuh ibu,” ujar Vera. Babysitter dapat dijadikan kawan yang membantu, bukan seluruhnya mengurus anak.

“Karena ada perihal dari ibu yang tak dapat tergantikan pengasuh,” ia menegaskan.

Tetap dekat bersama anak dapat membantu dikala berlangsung sesuatu pada anak di belakang kita. Istilahnya, tidak kudu sampai manfaatkan kamera pengawas untuk tahu ada seseorang yang menjahati anak. Ingat, kekerasan tidak senantiasa meninggalkan bekas yang nampak nyata.

Orang tua dapat mencermati sikap atau respons anak dikala berinteraksi bersama pengasuh. Coba lihat, apakah anak nampak tertekan atau takut.

“Selain itu, anak termasuk dapat nampak benar-benar risau ditinggal ibunya,” bilang Vera. Jika terbukti benar penyebab rasa risau adalah pengasuh, orang tua kudu segera tampil sebagai pelindung.

Jika anak udah dapat berkomunikasi, jelaskan yang dilakukan “si mbak” (atau siapa pun pengasuhnya) perihal yang keliru dan tidak dapat terulang.

“Anak butuh terasa dilindungi. Pastikan itu, bersama perkataan atau perbuatan. Mungkin anak tidak dapat lupa, tapi bersama orang tua memberi pengalaman sebaliknya, perlakuan yang benar kepadanya, pengalaman tidak baik yang selanjutnya tidak dapat berdampak negatif konsisten pada anak,” Vera memaparkan.

Hal lain yang sering orang tua tidak sadari, pekerjaan mengasuh itu kudu dilakukan bersama hati, bersama kasih dan sayang. Ketika babysitter berbuat jahat kepada anak asuhannya, jawabannya hanya satu: dia tidak menyayangi anak itu.

“Banyak segi yang memicu pengasuh jadi jahat. Tapi, yang tahu karena ia tidak betul-betul menyayangi anak. Anak hanya diakui objek mendapatkan duwit (gaji) agar dapat diperlakukan sebagai objek pula dikala ia emosional, marah, atau kesal,” terang Vera.