Jakarta, 19/6 (HARIAN MURIA) – Para peneliti menurut University of South Australia pada studi mereka menerangkan masih ada interaksi antara kadar vitamin D yg rendah menggunakan peningkatan risiko demensia.

 

Para peneliti memakai data menurut lebih menurut 294.000 responden pada Biobank Inggris. Mereka menganalisis bagaimana taraf vitamin D yg tidak sama berdampak dalam risiko demensia.

 

Risiko demensia diprediksi 54 % lebih tinggi dalam mereka yg mempunyai kadar vitamin D 25 nmol/L dibandingkan menggunakan responden yg mempunyai kadar vitamin D normal (50 nmol/L).

 

Dalam beberapa populasi yg diteliti, studi tadi menerangkan bahwa sampai 17 % masalah demensia bisa dicegah apabila kadar vitamin D ditingkatkan ke taraf normal (50 nmol/L).

 

5 Rekomendasi Cafe di Rembang, Hits dan Murah untuk Nongkrong

 

“Studi kami merupakan yg pertama yg menguji imbas taraf vitamin D yg sangat rendah dalam risiko demensia & stroke, memakai analisis genetik yg bertenaga pada antara populasi besar,” istilah peneliti senior studi tadi sekaligus Direktur UniSA’s Australian Centre for Precision Health Prof. Elina Hyppönen, dikutip menurut Healthline dalam Minggu.

 

Ahli geriatri & Direktur Kesehatan Kognitif Geriari pada Providence Saint John’s Health Center, Scott Kaiser, merespon studi tadi menggunakan beropini bahwa penelitian lebih lanjut dibutuhkan buat mengonfirmasi penyebab apakah kadar vitamin D yg rendah sahih-sahih menaikkan risiko demensia, mengingat studi baru menerangkan interaksi antara vitamin D & risiko demensia.

 

apabila masih ada penelitian lebih lanjut, Kaiser menyampaikan hal itu sanggup bermanfaat menjadi upaya buat menurunkan risiko demensia. Menurutnya, penelitian layak diselidiki lebih lanjut sebagai akibatnya bisa mengetahui jenis vitamin D misalnya apa yg bisa dikonsumsi BISA berisiko tinggi.

 

“Ini merupakan studi yg sangat menarik & menambah area penyelidikan yg sangat krusial antara vitamin D & risiko demensia,” istilah Kaiser pada Healthline.

 

Demensia adalah kata generik buat banyak sekali gejala, termasuk kehilangan ingatan & kesulitan kognisi yg memengaruhi kehidupan sehari-hari. Alzheimer merupakan bentuk paling generik menurut demensia. Pusat Pengendalian & Pencegahan Penyakit (CDC) memperkirakan masih ada 5,8 juta orang pada Amerika Serikat yg hayati menggunakan penyakit Alzheimer atau demensia terkait.

 

Profesor kedokteran klinis pada Departemen Endokrinologi, Gerontologi, & Metabolisme pada Universitas Stanford, Marilyn Tan, beropini yg terpenting menurut penelitian tadi adalah menjadi pengingat supaya semakin poly orang yg menyadari pentingnya perawatan kesehatan secara teratur, melakukan inspeksi rutin, & memeriksakan syarat kesehatan melalui laboratorium.

 

“Mungkinkah terdapat manfaat tambahan (dalam vitamin D) buat mengurangi risiko demensia? Bisa jadi. Namun aku  pikir itu terlalu sulit buat dikatakan lantaran kita nir mempunyai percobaan yg menaruh hegemoni suplementasi vitamin D buat menerangkan peningkatan risiko demensia,” katanya.